Senin, 10 Februari 2014

#Cerbung1(ss)
Kakak, Bagaimana Pagimu Hari Ini?
“ Kakak bagaimana pagimu hari ini? Apakah menyenangkan? “
“ Pagiku selalu tak membuat aku tersenyum jika matahariku telat bangun dan akhirnya bikin kakak nunggu lama “
“ ih kok gitu.. maaf banget kakak, besok aku janji gak akan telat bangun lagi, gak akan begadang malam-malam, dan gak akan banyak makan.. haha “
“ Yang penting kamu nyaman dengan dirimu dan kamu tau apa yang terbaik yang harus kamu lakukan, kamu udah SMA sekarang, bagi orang desa, usiamu sudah dewasa lho.. “
“ aku tau pasti kakak mau bilang aku tua “
“haha.. Enggak, itu kan barusan kamu yang bilang. Kakak kan juga udah mau lulus. Kakak kan laki-laki, pengen cepat dapat kerja dhek, kakak mau merantau keluar kota. “
“ Gak boleh.”
“ Lho kamu gak mau kakak maju? Terus pulang bawain Teddy buat kamu? “
“ bukan gitu, nanti siapa yang boncengi aku ke sekolah, terus siapa yang suka marahi aku kalo telat, terus siapa yang mau ngajari aku bikin.., yang terpenting siapa yang kasih aku kelapa muda..”
“ Dhek kamu udah gedhe, kamu kan bisa jalan kaki ke sekolah biar cepat tinggi, biat bisa manjat pohon kelapa.”
“ kak.. aku gk bisa nyebutin alasan lagi biar kakak gak ninggalin aku, aku cuma pengen kakak gak pergi jauh dari sini, dari hatiku kak, kak aku takut kakak pergi terus kita pisah.”
“ dhek udah lepasin dulu tangannya, kita pakai seragam sekolah lho, nanti kalo kakak udah bisa beli baju pengantin aja ya buatmu dhek. “
“ kak berhenti, aku mau turun.”
“ Lho kenapa? “
“ sepeda kakak kayaknya bocor, dari tadi aku berasa duduk diatas batu. “
“ dhek kamu marah ya, orang ban nya masih isi angin gini dibilang bocor.  Kau hanya perlu percaya, bahwa jika kita satu, maka setengah yang lain tidak akan bisa mengganti posisi pelengkap sebenarnya. Karena jika memang kau dari tulang rusukku dhek, aku bersyukur karena aku telah menjagamu mulai dari aku melihatmu pertama kali. Dan aku tidak mau sekedar menjagamu dan bersamamu tanpa aku bisa memberikan kebahagiaan yang memang pantas ku berikan padamu tercinta.  Mengerti kah kau dhek?
“ Tidak, aku tidak mengerti. Yang aku pahami hanya aku bahagia dan ingin pergi ke pasar segera.”
“ Dhek buat apa? “
“ Buat membagikan kebahagiaan yang aku dapat pagi ini, dari mu kak. “

Bersambung… ^_^
Loving you like loving a novel
Waktu masih menunjukan jam 8 malam di dinding kamarku. Aku berbaring tak tenang, duduk tak tenang, berdiri apalagi. Aku sedang menunggu. Kemana kamu? Kenapa kau tak balas sms dariku.
                Satu bulan sebelumnya temanku bilang padaku.
“ Ta, kamu kenapa? Lagi ada masalah ya? Kok murung terus, kayak gak semangat gitu belajar, apalagi sekarang kamu jadi sering ngantuk ya aku perhatikan, ayo Ta cerita sama aku kamu ada masalah apa? “
“ Gak ada apa-apa kok An, masa iya aku gitu ya? Aku malah gak tau kalo aku sedang seperti itu sekarang.”
“ Sebentar lagi kita ujian lho Ta, kamu harus konsen belajar, apalagi kamu bilang kamu agak kesulitan di Matematika sama Fisika.”
“ Iya An, aku udah nyoba belajar lebih keras, Cuma kadang aku masih kalah sam malas An.”
“ Jangan bilang kamu jadi malas gini karena ada masalah sama Adi, Ta?”
“ Rumayan An, aku serasa kehilangan dia akhir-akhir ini An, aku gak bisa kalo gak mikirin itu. . .”
“ Ta, Tuhan menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan, Tuhan menjodahkan malam dengan siang, laki-laki dan perempuan, hidup dan mati bahkan kesenangan dan kesedihan, lantas kalau kita sudah tahu hal itu pasti ada apakah kita harus menyerah dalam keadaan yang menurut kita sangat buruk, atau kita harus lupa akan keadaan buruk yang bisa menerpa ketika kita menikmati kesenangan. Menurutku Ta, bukan pada tempatnya kamu terlalu menyedihkan hal itu, masalah seperti ini. Ta, masalah sekolah haris lebih kau sedihkan jika kau gagal nanti di akhir, kta sudah berjuang selama tiga tahun, jangan biarkan mimpimu lepas karena hal sepele ini. Kamu mengerti, Ta?
“ An, peluk aku An, aku terlalu lemah oleh godaan nafsu hatiku untuk bersedih, aku terlalu lemah untuk tetap bermuka riang ketika aku sadari kini dia menjauh dariku An, aku terlalu naif untuk menerima bahwa aku ini memang budak kegalauan, An rangkul aku lagi agar aku kuat An. . .!!”
“ Udah Ta, air mata kita terlalu berharga untuk kita jatuhkan hanya demi ini. Ta ayo semangat, jika pun dia meninggalkanmu, masih ada aku. Aku yakin aku bisa menjadi tempatmu berkeluh kesah lebih baik daripada Dia. Ta, ayo janji sama aku, jangan sedih lagi …! “
                Dan waktu itu aku belum bisa menjawab pertanyaan Ana, permintaan Ana supaya aku berjanji untuk tidak bersedih lagi mengenai masalahku dengan Adi. Hari-hari setelah ada menyuntikkan kekuatan hati padaku, aku merasa lebih baik memang, karena selain dari Ana, Adi juga masih menghubungiku meskipun aku merasa sikapnya sudah berubah, dari 7 bulan yang lalu, ketika pertama kali kita memutuskan menjadi sepasang kekasih.
“ Ta, udah sarapan belum?”
“ Belum Di, lapar nih sebenarnya..”
“ Ya udah nih makan aja hati aku, enak lho, aku jamin rasanya manis kayak yang punya hatinya.. “
“ Haha.. Iuhh.. Aku gak doyan hati, hati kan pahit, banyak racunnya, sama kau yakin hatimu itu rasanya asam banget, kan kamu jarang mandi.. “
“ Gitu ya Ta, gak ada yang ngingetin aku buat mandi sih Ta. Eh gimana kalo kamu aja ya Ta, harus mau.”
“ Eittt.. Tunggu,, apa-apaan ini? Ngangkat pegawai kok maksa, gak mau aku.”
“ Serius Ta, jadi pacar Adi?
“ Adi gak lucu banget bercandamu… “
“ Ta, Adi suka Tita..”
Tuttt…
                Saat itu langsung kumatikan telephon sore itu. Karena aku merasa aku juga menyukainya aku pun menerimanya tiga hari kemudian. Awalnya rasa suka ku padanya biasa saja dan masih wajar, bahkan terkadang aku tak menganggapnya, aku bilang bahwa aku tidak sedang berpacaran pada temanku. Tiga bulan kemudian aku baru merasa, ketika kita sangat dekat dan tiba-tiba dia bilang akan pergi keluar kota. Aku cukup kaget, dan sebelum dia berangkat aku pun meminta bertemu dengannya untuk sekedar salam perpisahan. Sejenak saja kita bertemu, karena memang waktu itu tidak memungkinkan bagi kami untuk banyak bertukar kisah satu sama lain.
                Dan hari itu tiba, hari dimana awal perubahan pada dirinya dimulai. Meski hal itu tak pernah aku sadari, kami masih saling menghubungi memang, namun waktu terus merangkak ke depan, ketika aku menceritakan suatu hal padanya, takku tangkap lagi antusiasnya akan cerita-ceritaku itu, bahkan akan diriku, ketika aku menanyakan hal itu, Ia beralasan sedang sibuk bekerja dan waktu luangnya sungguh sedikit. Aku pun mencoba mengerti, mencoba untuk tidak menuntut padanya atas perhatian yang semakin berkurang untukku. Ketika aku berusaha memahaminya, aku temukan banyak sifat yang baik darinya, Ia sangat mandiri, sangat mencintai keluarganya, pemahamannya tentang agama pun jauh lebih baik dariku,aku semakin menaruh hati padanya. Meskipun satu hal yang ketika itu aku abaikan. Bagaimana pendapatnya tentangku, seberapa besar ia memberikan perasaannya untukku.
                Dua minggu setelah aku bercerita kepada Ana bahwa aku merasa Adi berubah sikap padaku, aku bertengkar dengannya.
“ Di, kamu itu kemana aja sih, kenapa lama banget balas smsnya?”
“ Maaf Ta, aku tidur tadi, kan aku habis kerja.”
“ Benar kamu tidur? Kenapa kamu sekarang sering gak ada kalo aku sedang butuh kamu. Aku ngerasa kamu berubah Di.”
“ Berubah gimana Ta, aku masih sama.”
“ Ya udah, aku gak mau bertengkar, aku minta kamu juga sisain sedit aja waktumu dalam satu hari, untk sekedar menyapaku, sekedar memberiku semangat, bisakah?”
“ Aku.. gak bisa janji Ta”
                Yah… perbincangan singkat kami malam itu bukannya menghilangkan rasa gelisahku, tapi membuatnya semakin menjadi-jadi. Aku tak bisa konsentrasi belajar. Aku tak bisa berfikir. Dan akhir dari semua itu adalah layaknya seorang perempuan yang sakit hati, aku menangis.
                Pagi harinya aku berusaha untuk tetap terlihat wajar di depan Ana, dan meskipun aku berhasil menipu Ana, namun aku gagal menipu diriku dari rasa kecewaku pada Adi. Ujian akhir semakin dekat, dan masalah hubunganku dengan Adi pun semakin berlarut-larut. Suatu hari kudapati Adi berbincang akrab dengan seorang perempuan di media jejaring social. Rasa penasaranku memuncak dan kucari tahu informasi lagi lebih banyak tentangnya. Di depan Adi aku pura-pura tidak mengetahui hal itu, karena aku tidak ingin prasangka jelekku semakin merusak hubunganku dengannya. Saat itu rasa takut kehilangannya lebih besar daripada rasa penasaranku akan hubungannya dengan perempuan itu.
                Namun suatu hari dia tak memberi kabar padaku sama sekali, bahkan dia tidak membalas semua sms ku. Malamnya setelah aku marah ia baru membalasnya. Malam itu juga kami bertengkar lagi.
                Hingga datang malam ini, jam 8 tepat di dinding kamarku. Aku merasa sangat kacau, pikiranku penuh dengan rasa sakit hati tak pernah lagi mendapat perhatian darinya. Hatiku kecewa karena ia tidak mau mengerti posisiku yang sangat butuh diberi semangat di detik-deik aku menuju ujian akhir. Aku marah aku tak bisa konsentrasi belajar dan dia tak kunjung membalas sms dariku. Saat kalut itulah, keputusan itu muncul.
“ Adi kamu jahat, kamu egois, kamu udah gak peduli sama aku.. apa jangan-jangan ada orang lain diantara kita sekarang..? “
“ Kamu jangan ngomong seenaknya gitu Ta, gak ada orang lain, aku memang sibuk. Aku minta maaf Ta kalo memang sekarang aku suda tidak bisa seperti dulu lagi.”
“ Aku bosan mendengar jawabanmu yang itu-itu aja, kamu gak ada alasan lain apa yang bisa kamu karang sekedar untuk menyenangkan hatiku?”
“ Tita udah.. aku minta maaf ya?”
“ Setidaknya lihat aku Di, aku tersiksa dengan sikapmu yang seperti  ini, aku mau putus.”
“ Apa? Ta jangan bercanda, kenapa harus putus, aku gak mau.”
“ Aku capek Di, aku selalu merasa perasaanku sekarang hanya sebelah tangan.”
                Kini ku keluarkan semua yang memenuhi hati, membuat aku tak tenang dalam setiap langkah. Kini meski aku tak pernah membencinya, aku melepasnya kuharap tanpanya aku lebih baik dan dia tanpaku lebih baik pula.
Description: C:\Program Files\Microsoft Office\MEDIA\CAGCAT10\j0088542.wmf
Beberapa hal yang baru aku temukan setelah hampir satu tahun aku putus dengannya. Memulai hubungan itu mudah namun menjaganya agar tidak menuai masa-masa bosan itu sulit. Rasa saling pengertian akan kesibukan dan rutinitas masing-masing juga merupakan hal penting dalam menjaga kelanggengan suatu hubungan. Tidak egois, selalu menang sendiri dan selalu mengedepankan ego merupakan duri-duri yang akan membuatnya semakin rapuh.
Dan hal lain yang aku temukan setelah kami putus waktu itu adalah sepertinya ia memang tidak sedih dan kehilangan ketika kami berpisah. Karena kudapati hanya dalam jangka beberapa hari, ia sudah memiliki kekasih baru. Dan perempuan itu adalah perempuan yang sama yang aku curigai dulu sebelum aku meminta putus padanya. Awalnya aku sangat membencinya. Namun lama aku menyadari bahwa semua memang sudah sepantasnya terjadi seperti ini. Namun yang membuatku terkadang masih sedih adalah aku masih terus mengingatnya, meskipun mungkin dia tidak mengingatku lagi, aku masih berharap bisa berhubungan baik dengannya dan meminta maaf atas segala ucapan-ucapanku yang mungkin kurang pantas padanya dan tentu melihat senyumnya. Senyum yang sempat menjadi senyumku mungkin.
Dan satu hal yang mungkin memang tidak bisa aku kendalikan, perasaannya padaku.
“ An, aku dulu bodoh ya?
“ Kenapa aku tidak bisa mencegah orang yang aku harap dekat denganku pergi jauh dan bosan denganku, haha bodoh sekali..”
“ Ta, masih ada aku, Ana. Semua itu sudah jadi masa lalu kan Ta, sekarang yang ada saat ini dn masa depan. Ayo runcingkan pena dan basahi kuas kita. Kita lukis kanvas bari kita dengan hal-hal yang lebih baik.”
“ Ana..”

--The End--

# short story 2 (ss)

Sekedar quote yang ane dapet beberapa hari ini dari perenungan sewaktu dibonceng naik motor, sewaktu duduk ngobrol, sewaktu menjemur baju, dan lupa mana lagi .  ^_^
- Lihatlah berudu kawan, dia masih bisa terus hidup menjadi katak meskipun lingkungan yang dia tempati jelas-jelas tercemar, kotor, bau, dan warna airnya hitam. intinya, jangan mengkambing hitamkan keadaan, seharusnya ketika kita memang punya niat dan kemauan yang kuat, lingkungan bukan terasa sebagai beban, namun tantangan yang ketika kita berhasil menaklukannya, atau berhasil melewatinya, kita pemenang. 

Rabu, 20 Maret 2013

@poetry@


Melatiku

Aku menenun rautmu pagi ini
Menghirup jejakmu di dingin gerimis
Menikmati siluet mentari samar
Indah sekali mengulum diperaduanmu
Memekikkan tawaku di hati
Kukagumi bijak biru matamu
Sajak-sajakmu menguntai di tepian dan berkilau
Serasa tak ingin,
Hanya kau tinggalkan satu legomu
Untuk kujadikan penebus sejuk dirimu
Aku pilu, aku tercekat takut
Membiusku lebih sakit dan sakit lagi
Tinggallah. Dan menjadi melatiku
27 pebruari 2013
[ss]
Image source from : http://shadowness.com/ikromibil/love-siluet

#cerpenku#


Buah Madu

                Bismillahirahmanirahhim
                Gerimis. Pertama kalinya disekolahku yang baru. Awalnya aku tak yakin, bahkan dengan kakiku menginjak tanah disini. Tapi tiap aku tak yakin, ku yakinkan lagi, lagi dan lagi. Aku pasti bisa kok. Bisik pertama. Ahaha. Lalu tertawa. Kupikir-pikir lagi, kenapa kemarin aku begitu ngotot pilih sekolah disini. Lalu terbayang deretan alasan dari yang paling terkuat hingga paling lemah. Ya udah yang penting sekarang perbaiki niatmu sayang. Bisik kedua. Tersenyum. Oh diriku agak aneh hari ini.
        Di masa awal masuk seperti biasa acara-acara perkenalan dengan mahasiswa dan seperangkat acara pendukungnya yang lain. Setelah dua hari, tidak sepertinya dari hari pertama, aku agak tersentak dengan kakak-kakak angkatanku disini. Mereka ramah, dan jilbab mereka, jauh dari jilbabku.. besar dan tebal tentu, kalau temanku bilang ‘itu tu taplak meja dipakai buat jilbapan’. Tapi setelah beberapa bulan di situ aku jadi malu sendiri dengan gayaku yang setengah-setengah serta kurang jelas ini. Mungkin panggilan hati.
        Kembali ke masa awal. Aku berkenalan dengan teman-teman baru disini. Aduhh pada dari pondok atau minimal MA lah,, jadi berasa paling aneh. Setelah hari-hari itu aku normal-normal saja menjalani kuliahku. Disini aku masih serampangan aja dalam tindakan dan sikapku karena minimnya pengetahuanku tentang aturan-aturan pondok antar ahkwat dan ihkwannya. Sampai suatu sore aku berjalan dari kantin kampus menuju kampus lagi tentunya sambil ngobrol ngalor-ngidul dengan temanku yang paling galak, Mauri.
        “ Ari, tau gak sih, aku suka punya idola tiap aku pindah sekolah, ya buat motivasi gitu dech, haha.. kamu gimana?” kataku dengan semangat yang aku kira berlebihan, ditambah kami berjalan di bawah gerimis. Hobyku banget.
        “ Ya gimana ya Ra, aku lagi gak mau mikir begituan, aku mau konsen sama kuliahku, ya paling cuma teman biasa buat sharing.” Jawabnya menyebalkan dan agak melumerkan moodku. Ya elah lumer,, emangnya coklat. Haha
        “ Ari mah gimana, kalau aku kayaknya ada dech,, haha “, tawaku dengan gaya aneh menengadahkan wajah ke langit.
        “ Anak sini, ya elah,, aku gak ada yang tertarik,, haha.. emang siapa sich yang mau kamu jadiin idola ??” seperti biasa ekspresinya sangat datar dan bikin jadi gak pede buat nglanjutin kisahku ini, haha, kisahku??
        Tiba-tiba ada anak ihkwan lewat disamping kami.
        “ Assalamualaikum” sapa Mauri padanya.
“ Waalaikumsalam” jawabnya. Mereka berdua sama-sama datar sedatar jalan pulang ke rumahku. Tapi dialah orang yang aku maksud. Setelah dia berlalu aku lanjutkan argumen-argumen yang menurut Mauri tidak penting.
“ Ya dia tadi lho orangnya, dia itu rajin, ramah, dan rumayan cakep,, haha. Tapi sekarang dia agak beda sich sama yang dulu waktu kita baru diawal-awal tahun ajaran.” Kataku.
“ owh, dia “, datar lagi, sangat datar malah. “ ya emang mungkin orangnya gitu, lihat aja pas aku nyapa tadi, biasa aja.” Sambungnya.
“ Iya sekarang, tapi dia dulu kan ramah, sering ngambilin kunciku kalo ketinggalan dimotor, suka nyapa aku, terus aku balas senyum.” Jawabku aneh sendiri.
“ Ya sekarang kamu tau kan aslinya mereka itu seperti apa. Kita di pondok Ra, mereka pasti jaga sikap mereka, kamu juga, matamu harus dijaga biar gak lirik-lirik sembarangan, haha.” Jawabannya yang menyebalkan ditambah dia tertawa.
        “Iya, tapi aku tetap suka ye… “
        “ ya udah terserah kamu aja.”
        Perbincangan kami berakhir dengan berakhirnya perjalanan pendek kami dari kantin ke kampus. Flashback beberapa bulan yang lalu. Kak Ardy. Awalnya dia basa aja, aku tak begitu peduli dengannya, Cuma yang ku tau dia ramah, kelihatan pintar, mungkin karena ketua organisasi mahasiswa, orangnya humoris dan terakhir, memakai koko di balik jas almamaternya. Dihari terakhir dari 1 minggu acara pengenalan mahasiswa baru itu. Kami mahasiswa baru diajak sharing. Dan pada akhirnya aku sadar, inilah yang akan menjadi duniaku. Dunia yang penuh dengan nuansa islami. Dari situ aku bersemangat baik untuk belajar ilmu terapan terutama ilmu agama. Aku ingin seperti mereka yang dimataku hebat dan penuh semangat berjuang demi kemajuan umat.
        Dan pada masa-masa itu aku tak menyadari akan perhatian beliau “mungkin” yang selalu mengambilkan kunci motor yang ketinggalan, menyapaku tanpa menyapa yang lain, bila kami bertemu di kantin, kami bisa bercanda meski sepatah dua patah kalimat. Namun entah, aku tak tau disengaja atau tidak, setelah hal-hal itu tidak ada lagi, aku merindukannya.
        Waktu demi waktu berjalan, sejak aku menceritakan hal aneh itu kepada Mauri aku jadi semakin memikirkannya. Aku percaya diri sekali, aku pajang foto-fotonya menjadi wallpaper di handphoneku. Aku menjadi sesegar bunga matahari setelah melihat dia, meskipun sebelumnya aku begitu kusut. Karena sekarang dia jarang sekali menyapa kami, tiap dia menyapaku, mungkin sapaan biasa dan wajar, namun bagiku itu seperti rejeki yang belum tentu bisa aku dapat sesering yang aku mau. Sejak saat itu aku penuh harapan dan obsesi, seandainya saja dia… ah mana mungkin. Dia begitu sempurna dimataku, tidak ada yang cacat.
        Hingga suatu hari setelah aku berbincang dengan salah satu teman sekaligus seniorku, kami berbincang bertukar pikiran atau lebih tepatnya guyon masalah pacaran. Beliau menyatakan pandangannya yang kira-kira seperti ini. Dari dulu beliau telah punya prinsip tidak ingin pacaran, dan sampai usia beliau kini 23 tahun beliau tetap memegang teguh prinsipnya. Kemudian megalirlah cerita tentang Ali dan Fatimah Az Zahra anak Nabi SAW. Kedua sejoli itu saling menyimpan cinta mereka untuk yang lain tanpa memperlihatkannya kepada siapapun, dan hal itu telah terjadi sejak pertemuan pertama mereka, mereka menjaganya seolah tak ingin setan tau da menggoda mereka. Hingga suatu hari Rasullulah menjodohkan mereka. Subhanallah besar sekali kuasa Allah.
        Setelahnya aku kemudian berpikir, betapa aku malu setelah menyadari betapa bodohnya diriku. Begitu indah kisah cinta antara Ali dan Fatimah. Sementara aku, malah mempermalukan diriku sendiri dengan menceritakan perasaan yang tidak seharusnya itu kepada orang lain. Sungguh aku malu sekali. Jadi mulai sekarang aku putuskan, kuserahkan semua kepadaNya saja. Aku tak ingin membuat diriku semakin rendah. Aku ingin mendapatkan jodoh terbaik dan juga menjadi jodoh terbaik pula bagi takdir Allah nanti. Jadi kuperbanyak kajianku dan berusa meghilangkan rasa itu dari dalam hati.
4 tahun kemudian..
        Sepulang kerja aku suka mampir ditaman didekat kantor tempatku bekerja. Sejuk nyaman dan rindang sekali. Duduk kembali di kursi yang sama dengan tiga hari yang lalu. Saat seorang teman lama menyapa.
        “ Assalamualaikum ukhti”
        “ Waalaikumsalam,, kak Ardy ya ?”
        “ Iya haha.. ternyata daya ingat Sandra masih bagus.”
        “ Ya kan aku belum tua-tua banget kayak kak Ardy.”
        “ Lhoh kok jadi saling mengejek kita.. haha.. sendirian aja ukh? Gak sama suami ni, hehe ?”
        “ Aku kelihatan udah ibu-ibu ya, aku belum nikah kak,,” aku jengkel.
        “ Sama ya kakak juga belum, padahal kakak kan cakep, cakep dan cakep lagi “
        “ hahaha.. itu adalah kata-kata motivasi diri teraneh yang pernah aku dengar.”
        “ ya ketahuan.. tapi bentar lagi kakak mau lamar calon bidadari kakak haha.. kamu yang sabar ya nunggu lamaran dari pangeran berjenggot “
        “ ye.. ya udah semoga bidadarinya gak salah ngambil keputusan.. haha. Aku duluan kak udah sore banget, mendung pula.. ya udah asalamualaikum..
        “ Waalaikumsalam.. Ra kursimu ketinggalan..”
        “ Ya udah kak Ardy masukin tas kak Ardy aja terus bawa pulang.” Penutup percakapan singkat kami.
        Aku terbangun dari lamunan ketika rintik hujan jatuh ditanganku. Lama tak jumpa dengan kau kak, kau membuat hatiku jadi galau lagi, kau muncul dank au langsung bawa kabar gembira juga sedikit sedih untukku.
        “ Assalamualaikum ukh, sendirian lagi? “
        “ Waalaikum salam kak, iya.. ketemu lagi, gimana  lamaran kakak? “
        “ pengennya sih sukses, semoga dia mau menerima kakak yang cakep ini”
        “ haha.. jadi belum ya? “
        “ Sandra mau jadi bidadari kakak ? “ [ss]